• gbanner2 hari santri
  • 70tahun
  • Bendera Milad

70 Tahun Pondok Pesantren Maqna'ul Ulum, Meniti Jalan, Meraih Cita-cita

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


PP. MAQNA'UL ULUM

NPSN : 70039269

Jl. Pahlawan No.72 Sukorejo Sukowono Jember 68194 Jatim


[email protected]

TLP : 083146801700


          

Banner

Agenda

28 February 2026
M
S
S
R
K
J
S
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Statistik


Total Hits : 578881
Pengunjung : 207492
Hari ini : 8
Hits hari ini : 67
Member Online : 2
IP : 216.73.216.42
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Pimpinan Generasi Pertama ( 1956-2000 )

KH. AHMAD NAHRAWI

Pondok Pesantren Maqnaul ‘Ulum didirikan tahun 1956 oleh KH. Nahrawi di Desa Sukorejo, Kec. Sukowono, tepatnya di kompleks Masjid al-Falah. Semula hanya bermodal 6 santri yang mengaji di pesantren tersebut, itupun sekedar mengaji al-Qur’an. Namun kemudian juga diselingi dengan pengajian kitab, yang langsung dibimbing oleh Kiai Nahrawi. Rupanya warga tertarik dengan kharisma Kiai Nahrawi, sehingga santrinya terus bertambah.

 

Karena itu, empat tahun setelah berdiri, tepatnya tahun 1962 Maqnaul ‘Ulum pindah ke sebelah barat, sekitar 200 meter dari Masjid al-Falah di salah satu Gumuk yang terletak antara gunung Raung dan Argopuro, yang mengapit desa Sukorejo Kec.Sukowono.

Disinilah Kiai Ahmad Nahrawi mengembangkan pondoknya yang kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Kiai Gumuk atau Pondok Deklekor bahkan ada yang mengatakan Pondok Karanganyar dikarenakan pondok ini bertempat di lahan baru. Pada saat itu Gumuk tersebut masih merupakan kawasan hutan ,berbatuan dan semak belukar yang belum satupun bangunan berdiri diatasnya kecuali kandang babi. Bahkan hutan ini dikenal sebagai tempat yang angker., mulailah kegiatan pembabatan lahan oleh santri, walisantri dan masyarakat sekitar, setelah tanah gumuk diwakafkan oleh seorang masyarakat tidak jauh dari lokasi tersebut yang bernama Bapak Hasan.

 

Gumuk adalah sebuah gundukan tinggi serupa gunung kecil dan bukit ,Gumuk terbentuk atas letusan Gunung Raung di masa lampau. Sejarah mencatat letusan terlampau Gunung Raung di abad 16 (1500-an Masehi),dan letusan terdahsyatnya di abad 17 (sekitar 1628 M) [Sumber data : RZ Hakim].

 

Di situlah sampai saat ini Maqnaul ‘Ulum terus berkembang. Konon Nama “Maqna’ul Ulum ” diberi oleh KH. Asnawi seorang Kiai dari Sumenep Madura ( Sumber KH. Imron bin Ali (Pondok Pesantren Zaidul Ali ).

 

Selama tujuh tahun, Maqnaul ‘Ulum hanya memfokuskan pendidikannya pada bidang agama. Santri hanya diajari kitab-kitab klasik yang biasa diajarkan di pesantren salaf, misalnya Sullamut Taufig, Safinatun Najah, Fathul Oorib dan sebagainya, dengan duduk lesehan dimushalla dan masjid. Selaku alumni Sumbewringin (1955) Kiai Nahrawi merasa punya kewajiban untuk melestarik sekaligus mengembankan kitab-kitab tersebut kepada santrinya. Pasalnya, kitab-kitab itulah yang dia pelajari di Sumberwringin.

Pertengahan tahun 1962, Maqnaul ‘Ulum mendirikan Madrasah Diniyah (Madin). Namun, walaupun namanya Madin tapi jangan dibayangkan seperti Madin pada umumnya, yang pengajarannya dikelompokkan berdasarkan kelas, serta anak didiknya duduk di bangku. Madin di situ, tidak ada kelas-kelas. Pengelompokan santri hanya berdasarkan kitab yang dipelajari. Misalnya di bidang gramatikal, kalau masih awal (batu), santri diajari kitab Jurmiyah. Kalau sudah tamat, baru menginjak kitab yang lebih tinggi lagi, yaitu Imrithi. Begitu seterusnya.

 

Madrasah Mu’allimin Al Islamiyah (MMI), 1987

 

Baru pada tahun 1987, Madin tersebut disempurnakan. Penyempurnaannya antara lain dengan menggunakan kelas-kelas, mulai dari kelas satu hingga kelas enam. Madrasah Diniyah Mu'allimin wal Mu'allimat Al Islamiyah (MMI) selama 6 tahun. Pendidikan Madrasah Mu'allimin Wal Mu'allimat Al Islamiyah (MMI) menggunakan kurikulum diniyah yang disusun secara khusus menitikberatkan kepada penguasaan materi ilmu-ilmu agama (diniyah) dan ditambah dengan ilmu-ilmu keguruan.

 

SMP Terbuka, 1998

Kiai Nahrawi dan putra-putranya terus memutar otak untuk mengembangkan Pesantren. Maka tahun 1998, dibukalah SMP terbuka, yang menginduk kepada SMPN 02 Sukowono. Pendirian SMP terbuka itu diilhami oleh keberadaan Madin MMI. Pelaksanaan SMP Terbuka ini dipadukan dengan Madrasah Diniyah yang ada, sebagai pelengkap, sehingga legalitas lulusan Madin mendapatkan pengakuan dari pemerintah dan dapat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.

 

Kejar Paket C, 2010

Kendati namanya SMP Terbuka, tapi siswanya masuk secara reguler, sejak Senin sampai Sabtu. Sehingga kwalitas lulusannya, cukup bisa diandalkan untuk masuk di sekolah favorit. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Magnaul Ulum juga menyelenggarakan paket C. Untuk mencetak generasi yang mumpuni, rasanya tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan ala kadarnya. Dan itu sepenuhnya disadari oleh petinggi Magnaul ‘Ulum. Itulah sebabnya, tahun 2000, Maqnaul ‘Ulum bekerja sama dengan Pemkab Jember guna mendirikan SMAN Plus. Lokasinya sekitar 3 kilometer dari kompleks pesantren, tepatnya di Desa Sumberwaru, Kec. Sukowono. Hingga saat ini, lembaga binaan Dinas Pendidikan Kabupaten Jember itu, masih tetap eksis, dan telah menelorkan anak didik yang cakap, tidak hanya dalam bidang agama tapi juga bidang umum.

 

Namun sayang, tak lama setelah mendirikan SMAN Plus, Kiai Nahrawi wafat. Kendati demikian, Magnaul Ulum terus berdiri tegak seraya menebarkan dan mengibarkan panji-panji Aswaja. Saat ini, santri yang menetap di Maqnaul ‘Ulum mencapai 325 santri putra dan 431 santri putra.

 

Pendiri Wafat Tahun 2000

 

Pada tanggal 2 Pebruari 2000 pukul 19.00 WIB beliau wafat menghadap Allah SWT di Rumah Sakit Umum Jember dengan meninggalkan seorang istri dan 4 Putra. Yaitu :

1. KH. Abdul Malik Dlofir Nahrawi ( Alumni UNDAR Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang )
2. KH. Abdul Qodir Auda  ( Alumni MHM Pondok Pesantren Lirboyo Kediri )
3. KH. Sirojul Bayan Nahrawi ( Alumni KMI Pondok MOdern Gontor )
4. KH. Mahrus Muhith ( KMI/IPD Pondok Modern Gontor Ponorogo )

K.H. Ahmad Nahrawi, Pendiri Pondok wafat. Sepeninggal Pendiri/Pengasuh tongkat estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Maqna’ul Ulum diserahkan kepada generasi kedua yang merupakan putra dari almarhum. Mereka adalah KH Abdul Malik, KH. Abdul Qodir, KH. Sirajul Bayan dan KH. Mahrus Muhith.